Kamis, 02 Januari 2020

Surat Terbuka Kepada Jasa Marga


Surat Terbuka Kepada Jasa Marga
2 Januari 2020

#keluhanjasamarga   #jasamarga    #YLKI

Saya adalah pengguna setia jalan tol di Jabodetabek. Setia bukan karena cinta sejati, melainkan karena tidak ada opsi tol lain. Namun, sudah terlalu lama saya dikecewakan, terutama ruas Cikampek, ruas ini yang rutin saya lewati. Kejadian tidak enak terakhir adalah kemarin, tgl 1 Jan 2020, saat tahun baru. Saya dari arah Jateng (Jogja) tujuan akhir Bekasi Barat, membutuhkan total 16jam dimana 6.5jam nya dari Cikarang sampai Bekasi Barat, 24Km saja jaraknya.

Cerita horor dimulai saat Cikampek, mulai km 64 tersendat, tetapi ini dikarenakan antrian ke dan setelah rest area. Ok, saya faham.

Sampai di KM34 (setelah Deltamas) pukul 19.00 stuck tidak bergerak, pukul 21.00 sampai di di Cikarang Barat, ternyata semua kendaraan dialihkan keluar.  Dua jam untuk jarak 2km! Jalan kaki santai saja hanya perlu  kurang dari 30 menit.  Saya tahu DKI dan sekitarnya banjir besar, tetapi tidak ada informasi gerbang mana yang ditutup agar saya bisa tentukan opsi lain. Menelepon 14080, puluhan kali, hanya dijawab “customer service kami sedang melayani customer lain” atau hanya bunyi tut tut tut, dan call forwarding.  Juga tidak ada press release dari JM,  di media on line. Saya cek di Detik,, Kompas, dan search di google dengan kata kunci tol Cikampek, Nihil.  Press release di Detik baru saya lihat di hari berikutnya, tanggal 2 Jan pagi. Di era Industri 4.0 seperti sekarang, ini adalah “too late”

Setelah keluar Cikarang Barat, pukul 21.00, drama masih berlanjut. Mencoba opsi jalan menyusur kalimalang, stuck. Opsi lain menggunakan jalur lama Cikarang -  Bekasi. Di dekat tertigaan Jababeka kearah utara sudah berhenti, terjebak lagi. Saya putuskan untuk putar balik, U turn nya sejauh 800meter baru berhasil di pukul 23.30 !! 2.5jam dari keluar tol Cikarang Barat untuk berputar lagi, di situ situ saja. Selama itu berusaha menghubungi 14080, masih tidak berhasil.

Sempat memutuskan untuk menginap di hotel, tetapi telepon ke beberapa saudara dan relasi, mereka sampaikan hotel di Bekasi dan Cikarang penuh semua,karena banyak korban mengungsi.

Berdasarkan google map, opsi lain adalah lewat jalan alternative ke arah Jonggol, Taman Buah Mekarsari, Narogong dan Bekasi, total jarak sekitar 50km. Kami pilih opsi tersebut dan akhirnya sampai di rumah pukul 1.30 pagi.   

Saya beruntung membawa mobil pribadi dan ada Pak Sopir, meskipun tetap saja tidak nyaman, karena beberapa kali anak saya minta ke toilet ditengah kemacetan, + capai.  Bagaimana penderitaan Penumpang kendaraan umum, Bus, Travel, yg terjebak ? Bagaimana dengan orang tua dan anak anak dalam kendaraan tersebut ? Pasti sangat menderita. Mereka adalah “silent victim”.  Saya menulis ini untuk mereka.  Sambil menunggu YLKI bersuara juga.

Adalah fakta bahwa ada banjir besar, tetapi JM tidak membagikan informasi detail terkait, bagian mana ruas yang terendam, demikian juga kenapa Cikarang Barat yang ditutup.  Lebih spesifik, komplain saya ke JM dalam kasus ini adalah :

(1)   Kenapa tidak ada on time press release di media online, dan atau menerjunkan petugas sejak Karawang Timur, Karawang Barat, Rest Area, untuk menginformasikan bahwa Cikarang Barat ditutup.  Sehingga pelanggan bisa antisipasi, misal :  lewat Elevated Toll, meskipun kemungkinan macet juga, atau menginap. Apakah para petugas JM sedang liburan?  Saya usul agar FB, atau, Instagram, atau website khusus yang berisi update seluruh ruas, real time.  Saya tahu ada Instagram JM, tetapi isinya hanya seremonial peresmian ini dan itu, dan berita-berita positif saja.

(2)    Kenapa call Center 14080, lebih sering tidak dapat dihubungi ? Jika ada kejelasan, paling tidak tingkat stress pengguna dapat ditekan, karena mengetahui kejadian yang ada dan bisa mencari opsi lain.

Kasus diatas hanyalah trigger saya menulis surat ini. Sekali lagi, bencana alam banjir di Jabodetabek, adalah fakta, tetapi respon JM sama sekali tidak menunjukkan “sense of crisis” dan tidak berdiri di sisi pelanggan. Kita semua tahu bahwa 1 Januari adalah puncak mudik libur akhir tahun.

Ketidak-puasan sebelumnya sudah banyak. Intinya pelayanan tidak sesuai dengan pendapatan dari ticket toll yang dibayarkan.  Kemacetan masih terjadi setiap hari, hampir di seluruh ruas. Jika memang selalu macet dan tidak dapat diatasi, gratiskan beberapa ruas yang sudah balik modal. Atau berikan penurunan harga. Ini sebagai kompensasi /goodwill perusahaan.  

Saat ini yang rutin dilakukan JM adalah menaikkan tarif tol. Saya tidak tahu alasannya, biaya operasional yang tinggi mungkin. Saya tidak tahu sudah seberapa efisien JM mengelola keuangan, bagaimana mengontrol "operational expense", bagaimana mengontrol "capital expense", dan "purchasing process".  Yang pasti saya banyak melihat investasi yang tidak dipakai / tidak tepat sasaran juga seperti : text display dimana mana, tanpa berisi value added information. 

Saya tidak tahu, kemana management JM bertanggung jawab, yang mana institusi tersebut yang harus menegur / mengontrol.  Faktanya, dari kami, para pelanggan lah JM mendapatkan dana untuk membiayai semua operasional JM, yang artinya pelanggan lah yang harus menjadi fokus.

Saat ini pendapatan dari ticket toll yang sedemikan tinggi, masih belum diimbangi dengan level pelayanan yang sesuai. Sebagai pelanggan, saya kecewa.





Sabtu, 20 Juli 2019

Lari Pagi atau Sore, Mana Lebih Baik ?


Lari Pagi atau Sore, Mana Lebih Baik ?

Lari, aktivitas sudah dilakukan sejak jaman purba, saat ini semakin banyak digemari. Alasannya jelas : murah, mudah, tidak butuh tempat khusus, tidak butuh pasangan, menjaga berat badan ideal, meningkatkan metabolisme, memberi rasa senang, bisa kapanpun...dll, list ini akan bertambah panjang jika anda cari di mbah google.

Bisa dilakukan kapan pun, yakin ? well, pada dasarnya iya.. tapi kebanyakan orang, di Indonesia, melakukan di pagi atau sore. Dapat dipahami karena di siang hari (sekitar jam 9.00 sd 16.00an), sinar matahari nya sama sekali tidak bersahabat.  Kalau mau nekat juga bisa, tapi berlipat beratnya. Stamina terkuras lebih cepat. Menurut saya, lari di bawah terik siang, paling tidak 2x lebih berat dibanding waktu lainnya. Ini akan pengaruh ke jarak, kecepatan, detak jantung.  Efek lain nya, gosong.  Saya sendiri, kalau tidak kebelet banget, ogah !

Pagi atau Sore ?

Bagi yang bisa bangun pagi, konon katanya pagi lebih baik. Tapi saya tidak melihat alasan teknis, kecuali bahwa karena udara pagi masih bersih, setelah debu mengendap semalaman disiram embun. Dan tubuh masih segar karena baru bangun tidur.

Ditemani Kekasih Hati


Bersama Cahaya

Me - Titik


Tapi, bagi kebanyakan orang kantoran di Jakarta dan sekitarnya, mana punya kemewahan waktu di pagi hari buat lari ? Bagaimana dengan weekend ?  ya bisa, tapi kalau buat saya, bablas tidur lebih lama di weekend lebih menggoda.  Maka saya menjadi penganut aliran lari sore. Yang penting cari tempat yang bersih, tidak banyak debu, banyak pohon, sepi dari mobil. Melihat senja sembari berlari memberi sensasi yang menyenangkan. Warna merah matahari bulat di langit jingga, suara daun kering diinjak sepatu, nyanyian burung pulang kendang, dan bau kayu pohon cedar adalah hadiah sekaligus kekasih yang paling sempurna !

Minggu, 31 Maret 2019

Anak Kecilku yang Bukan Anak Kecil Lagi


(Pesan Cinta seorang Ayah)


Saya sedang belajar mengurangi mengontrol, menggurui atau  memarahimu, karena engkau bukan anak kecil yang dulu lagi. Suatu saat engkau akan menjadi nahkoda kapalmu, duniamu, jadilah nahkoda yang bijaksana. 

Jangan takut hal yang sulit,.  Pahami dan berkawanlah akrab dengannya. Maka ia akan menjadi mudah.

Jika di perjalanan nanti, ada hal sulit sebesar gunung. Jangan gentar, tetaplah bertahan. Waktu akan menyelesaikannya untukmu. Kamu hanya butuh keteguhan batu karang dan kesabaran seluas samudera. Jagalah pikiran dan hati selalu terang benderang.


Kita - 2014

Jangan malas, seperti semut-semut  di meja belajar mu yang rajin mengusung remahan Oreo mu. Teruslah bergerak, seperti angin, yang menari nari di ketiak daun palem merah depan kamar tidurmu.  Jangan diam. Ingat waktu kita main sepeda didepan rumah, dia harus terus bergerak, agar tetap seimbang. 

Berkawanlah yang banyak, agar kau bisa berjalan jauh. Tapi ingat, engkau nahkoda hidup mu. 

Bukan kawanmu.  

Tetaplah belajar. Baca, dengar, amati, pahami. Pelihara pikiran mu tetap terang.  Walaupun begitu,  be humble, be alert. 

Makan lah makanan yang sehat, bukan yang enak. Biasanya sehat dan enak tidak berteman. Yang sehat itu buatan alam. Bukan pabrik. 

Jaga kondisi fisik mu,  karena ia akan menemanimu sampai akhir. Bukan orang lain.

Rasanya papa belum berhasil  berhenti menggurui mu. Bukan karena lebih pintar, tapi karena sudah hidup lebih lama.  Suatu saat, gantian kamu yang akan mengajari Papa. Papa tunggu saat itu. 

Love You !

Sabtu, 09 Maret 2019

Jakarta Chinatown

2019 Chinese New Year Atmophere in Jakarta
Jakarta China Town

                                                                             
Monday, Feb 4th 2019, one day before public holiday of Chinese Lunar New Year. I was tempted to take one day off.

I went from Bekasi to Jakarta's China Town, in Glodok and Pancoran area, accompanied by umbrella, mirrorless camera, and deep feeling of longing to Chinese New Year atmosphere.
Map of Jakarata China Town - Glodok Pancoran




Commuterline train brought me from Bekasi to  Kota Train Station  (Beos) , continue by walking 1.2km to reach the Old China Town.  Heaven bless me with good weather. The cloud shading me from the Sun. Without rain. And, these pictures will tell you thousand words !


Street Vendor, Occupied most of sideway of the small street. During Chinese New Year Session, it dominated by red color, symbol of good fortune.

Flower's Seller in "Pasar Baru" Pancoran Glodog China Town


A Life Frog Seller in "Pasar Baru" Pancoran Glodok China Town 
People Pray for Good Fortune - Jin De Yuan Temple



Imperial Guardian Lion to Protect the Building from Harmful Energy - Jin De Yuan Temple
-

chinatown
Small Temple in front of  a Small Isle in Chinatown

Catholic Church - Santa Maria de Fatima - Chinatown

Catholi Church Santa Maria de Fatima Main Gate

Small Temple in front of  Small Isle - Chinatown

Praying to Gods - Jin De Yuan Temple

Praying - Jin De Yuan Temple

Altar & Gods  - Jin De Yuan Temple

Crowd in the Forecort - Jin De Yuan Temple

Row of Giant Candles - Jin De Yuan Temple

18 Arhats LuoHan - Jin De Yuan

18 Arhats Luohan - Jin De Yuan Temple

I end the adventure in Jakarta Chinatown,  by having lunch with my brother, Gan (thanks for coming), and the most  delicious Suekiaw & China Soap Noodle in Pancoran Chinatown Point is the menu. What a great day.  































Jumat, 01 Januari 2016

Renungan Akhir 2015, Makna Ulang Tahun

Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi
.
(Disadur dari : kita adalah dedaunan by gurit winata puisisurga.wordrpress.com)

Setiap kuartal terakhir di tiap tahun, di kehidupan saya, ada banyak momentum yang special, atau lebih tepatnya orang kebanyakan menganggap momentum itu special, maka saya pun mengikuti ritual itu.

1. Ulang Tahun Kelahiran – Akhir Oktober

Entah mulai kapan manusia merayakan ulang tahun We are getting older every second, minute, hour, everyday ! Why then should we celebrate it every year, every 365days ? Dan kenapa harus dirayakan, bukankah umur kita berkurang dan semakin dekat ke hari akhir.

Saya ber prasangka, bahwa selebrasi ini adalah ciptaan para pemilik bisnis : kartu ucapan, Event Organizer, restoran2 /toko kue/toko kado, dan para muda-mudi yang mencari modus, untuk menciptakan momentum special dengan (calon) pacarnya.

Anyway, di hari tersebut, tetap ada ucapan, hadian kecil dari teman-teman. Juga karena bertepatan dengan akhir bulan Maria, di rumah sore nya ada doa rosario bersama ibu-ibu..:)

Akhir Oktober lalu, saya genap 44 tahun. Jika orang berkata time flies so fast, it is really true. Cepat sekali. Saya masih ingat hari pertama diantar papa masuk TK di Tegal, hampir 40 tahun yang lalu. Saya ketakutan sekali karena harus ke kelas sendirian :

“Ming, papa tunggu di sini ya, kamu sana ke kelas”

“ Nanti pulang papa kasih ini “

papa menunjukkan kue Koya (ps1). Saya suka kue itu.

“Papa tunggu disini ya, jangan kemana-mana”

Saya mewanti-wanti agar dia di tempat itu, supaya nanti pulang temukan dengan mudah. Saya memberanikan diri sekuat tenaga untuk masuk kelas dan tidak nangis, and I did it. It was my first memorable achievement !

That moment feels just like yesterday.

Secara fisik, tanda-tanda itu mulai tampak : rambut putih bertambah, penglihatan tidak tajam lagi (mulai plus,sejak 6th yang lalu). Sejak 6 bulan yang lalu, memiliki kebiasaan baru : potong nyaris plontos, hanya menyisakan 2mm saja. Dilakukan sendiri seminggu sekali. Meskipun selalu di protes oleh anak bungsu, GDP.

"Pa, ayo panjangin lagi dong rambutnya. Jelek tau"

Masih rutin lari, juga nge-gym di pagi hari, di dekat kantor.

Hal lain masih sama, bahkan banyak orang mengira saya lebih muda dari yang sebenarnya..ha..ha.

Masalah selalu ada, tetapi sekarang ada perbedaan respon ketika menghadapi masalah, baik dalam pekerjaan ataupun yang lain : lebih tenang, lebih percaya diri. Mulai nyaman ber konfrontasi, untuk memecahkan masalah. Dan dapat menerima jika berada di jalan buntu. Karena yakin : waktu akan menyelesaikan sisanya.

Pertanyaan ini juga selalu saya tanyakan : apakah keberadaan saya sudah memberi manfaat bagi sesama ? anak- istri, orang tua, saudara, teman, masyarakat, dan bahkan bumi ? Antara lain hal Ini memacu diri untuk lebih sabar, lebih mengasihi, memahami si sulung. Semakin yakin bahwa dia diutus untuk misi yang penting. Klinik tumbuh kembang Satria Kid Center / SKC yang kami dirikan di 2012, berjalan dengan baik dan berkembang. Istri yang mengelola. Si sulung juga mulai Agustus lalu sekolah di SLB Tri Asih di Kemanggisan, sorenya ke klinik SKC.

Mulai lebih terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah, walapun meng arrange waktunya sulit. Juga (berusaha) meningkatkan frekuensi komunikasi dengan papa mama di kampung.

Pekerjaan di kantor masih prioritas utama, dan selalu dinikmati dengan gembira, no matter whatever.

2. Ulang Tahun Pernikahan, 9 November

Tidak terasa, tahu-tahu sudah 18 tahun. Si Sulung , akan 17tahun tanggal 7 Januari besok . Si bungsu, GDP, akan 11 tahun tanggal 22 Januari nanti. Thanks God. Seperti biasa kami merayakannya dengan makan spesial keluar, berempat. Sengaja saya ambil cuti 1/2 hari, supaya dapat sampai rumah agak sore. Sorenya kami ke mall, saya tanya ke si bungsu GDP :

"De, hari ini kita mau makan spesial, ada ide di mana ?"

"KFC ? " jawabnya polos. Plis deh,.. ha..ha. Tentu saja kami tidak ke sana.

Bahtera ini sudah mengarungi 18 tahun perjalanan . Pemahaman arti cinta sudah ber-evolusi, ter-definisi ulang. Dia tidak lagi berupa perasaan berlebihan, seperti sering dilukiskan dalam lagu-lagu cinta remaja. Seperti misalnya Sam Smith dalam lagu Writing on the Wall :

“How do I live, how do I breathe, when you’re not here I’m suffocating” (bagaimana saya hidup, bagaimana saya bernapas, saat kau tidak disini saya kesulitan bernafas)

Ini adalah cinta anak muda. Yang dahsyat, menggebu lebay, dan emosional. Perasaan seperti ini ada,tetapi sudah fully under control.

Setelah sekian lama, maka cinta memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ketika seluruh tindakan, fokus, inisiatif, waktu dilakukan demi dia dan keluarga. Itu lah cinta. Contoh cinta sejati adalah kisah cinta seorang Nabi yang rela mengorbankan nyawanya bagi umatNya. Dia tidak mencintai umatnya dengan cinta ala “when you are not here I am
suffocating”




3. Ulang Tahun Sang Juruselamat, 25 Desember, Tahun Baru 1 January

Si Bungsu, GDP masih menjalankan ritual minta hadiah ke Santa, lewat surat yang dimasukan ke kaos kaki yang digantung. Permintaannya lebih detail dan lengkap : Lego dengan nomor serinya. (Space shuttle). And he got it. Pohon Natal plastic dan lampu kerlip Natal yang sudah puluhan tahun, masih di keluarkan dari gudang dan dipasang.

Apa yang beda ? Natal kali ini wilayah saya menjadi panitia Natal di Gereja, dan sebagai bendahara lingkungan, saya terlibat di kepanitiaan Natal. Jadi cukup sibuk. Ini untuk pertama kali setelah 35 tahun, kembali aktif. Dulu saat remaja aktif di misdinar, di Tegal. Lalu di pastoran di kampus.

Hal lain yang berbeda, kita juga sempatkan ke Surabaya, 3 malam 4 hari. Di bandara, terutama di pesawat, perlu perjuangan untuk meng handle si sulung. Dia harus duduk diantara kami berdua, dan di pegangi tangannya. Karena tidak betah dan minta jalan keluar. Mana bisa kan ? di luar kan awan, bukan sawah, he..he.

“perjalanan sejam serasa setahun” begitu kata istri saya.

Berita baiknya, banyak orang sekitar yang ber empati. Kami mendadapat nomor tempat duduk special, berurutan dan diberi akses khusus ke pesawat (meskipun tetap si Sulung harus di gotong melalui pintu pesawat, karena dia mogok tidak mau masuk). Ternyata masih banyak orang baik di muka bumi.

No matter what ever, kami tetap merasa diberkahi di tahun 2015, dan menatap 2016 dengan semangat optimisme, penuh syukur, dan cinta. Resolusi nya hanya itu.


PS1: Kue Koya : kue berbentuk bundar diameter sekitar 3cm, tebal 1cm, dibuat dari sejenis tepung, didalamnya diisi semacam selai coklat. Satu kemasan bisa berisi 4 kue, dibungkus dengan kemasan kertas warna putih, dan merek kalau tidak salah “buah thao”, kemasannya berbentuk silinder dengan panjang 5cm – 6cm.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Naik Commuterline Jakarta : Apakah Nyaman dan Aman ? (Bagian 2 dari 2 tulisan)

Tulisan ini melanjutkan postingan sebelumnya terkait petunjuk teknis bagaimana naik Commuter Line.

Saya mulai dari Keuntungannya, very obvious :

1. Anti macet, tidak capek nyetir
2. Tidak meng kontribusi macet (apakah anda termasuk orang yang naik mobil sendirian, apalagi naik mobil berukuran besar..saya kadang masuk kategori ini)
3. Go green, tidak polusi, satu kereta bisa angkut ratusan penumpang.
4. Ekonomis

Apakah Nyaman ?

Saya gambarkan situasinya agar anda dapat simpulkan sendiri nyaman atau tidak. Semua kereta pakai AC. Beberapa gerbong ada yang pakai fan juga, disamping AC. Ada petugas yang bolak balik ngepel (tentu saja saat memungkinkan, saat tidak terlalu penuh).

Jalur dan jam tertentu okupansi gerbongnya (sangat) padat. Anda harus berebut masuk, lalu berdiri pasrah, tanpa pakai tenaga pun bisa tetap berdiri, karena ditopang kanan kiri depan belakang, nyaris 360derajat, oleh manusia lain… Ini terjadi di jam berangkat kantor arah ke Jakarta, misal dari Bekasi, Bogor, Serpong. Sayang saya tidak punya gambar foto kondisi dahsyat ini. Berita baiknya : pada jam tersebut jalur sebaliknya nyaman.

Saat sore jam pulang kantor kondisi sebaliknya.

di dalam gerbong. Tingkat kepenuhan : sedang

Karena public transport, anda tidak dapat mendikte orang yang naik harus bagaimana. Ada yang rapi dan wangi, atau rapi tapi tidak wangi, bisa juga tidak rapi dan tidak wangi. Siapa sebelah anda tergantung inisiatif dan nasib anda yang konon katanya, tergantung amal ibadah, he..he. Selama ini nasib saya baik baik saja tuh. Maksud inisiatif, anda boleh pindah, geser, jika disamping ada dirasa mengganggu.

Kondisi Kosong, biasanya di jalur melawan arah (misal nya jam pagi dari arah Jakarta ke Bekasi. Atau jam tanggung di hari kerja

Pernah di kereta, saat pulang, kondisi penuh tingkat sedang, terdengar suara air menyembur. Tidak kelihatan dari tempat saya. Begitu sampai di Kranji, saya turun, baru ketahuan ceritanya. Ada lelaki jongkok, membersihkan bekas cairan putih seperti jus sirsak, yang tersebar, pakai tissue. Lehernya di pijat2 oleh satpam kereta. Bau minyak angin bercampur asam lambung+uraian karbohidrat+protein+lemak+enzym lain. Rupanya tadi dia menyemprot persis kearah pintu. Tidak tahu apa ada yang terciprat tadi. Jangan takut, kejadian ini 1 antara 1000 mungkin.

Toilet di dalam gerbong ? Karena didisain jarak dekat, maka tidak ada. Ini umum kok. Di luar negeri juga sama.

Hal lain, anda harus siapkan strategi bagaimana cara mencapai dan meninggalkan stasiun.

Aman ?

Relatif aman. Tapi harus tetap hati-hati. Saya selalu taruh dompet di saku depan, dan sering di cek. Demikian juga hp. Yang penting be alert.

Durasi Perjalanan?

Dengan kecepatan sekitar 70-100km per jam, tanpa lampu merah, dan tanpa macet maka durasi perjalanan antar stasiun dapat anda bayangkan sendiri. Masalah timbul jika kereta berhenti karena antri sebelum masik stasiun transit, atau menunggu kereta cepat lewat duluan. Durasi perjalanan bertambah jika rute anda harus berganti kereta di stasiun transit.

di stasiun transit : berbondong-bondong

Untuk gambaran ; Palmerah ke Jurangmangu Bintaro sekitar 20 menit jarak 12km (melewati 2 stasiun). Bekasi Ke Kota (tanpa pindah kereta) sekitar 1 jam, melewati 15 stasiun. Bintaro ke Bekasi (pindah kereta 2kali) sekitar 1.5 - 2jam.

Rute Saya, Sekedar Sharing

Rute saya dari Bekasi ke Bintaro turun di Sta Jurang Mangu. Saya tidak naik kereta dari Bekasi, karena menurut saya kurang nyaman, melainkan naik mobil bareng istri, anak sulung + supir ikut mengantar sekolah di daerah kemanggisan. Saya didrop out di Sta Palmerah. Dari Palmerah naik kereta arah selatan, turun Jurangmangu. Ini jalur nyaman di pagi hari, karena melawan arah. Sesampai Stasiun lalu naik angkot, atau angkutan Bintaro Intrans sampai kantor.

Stasiun Palmerah. Kereta tiba, siap-siap naik

Turun di Stasiun Jurang Mangu

Pulangnya, pakai kereta Bintaro-Bekasi. Bintaro sampai Tanah Abang, relatif nyaman karena melawan arus. Tetapi dari Tanah Abang ke Manggarai lalu ke Bekasi, ini jalur padat sekali. Tapi karena pulang kantor ya, santai saja, tidak buru-buru. Rata-rata harus berdiri dari Tanah Abang, sampai Bekasi. Tetapi Its ok, setelah duduk seharian di kantor, berdiri beberapa jam di kereta is not a big deal. Saya turun di Sta Kranji.

Dari Kranji ke rumah kombinasi naik angkot (atau ojek) + jalan kaki 20 menit, sekitar 1.8km. Sehat, tapi keringatan. Anggap saja cardio. Saya teringat kesaksian orang Jepang yang berumur 100th lebih, dia bilang kita harus jalan kaki tiap hari 5000an langkah katanya.

Biasanya kalau sudah rencana naik kereta, saya bawa baju ganti berupa baju hangat, yang pakai kerudung, karena dingin. Pakai sepatu kets (sepatu kerja ditinggal di mobil, di kantor). Baju kerja masuk ke ransel. Laptop ditinggal di kantor. Toh, email masih bisa diakses lewat mobile.

Polanya hari Senin saya bawa mobil lalu ditinggal. Jumat dibawa balik lagi. Hari lain, jika ada jadwal meeting pagi hari (yang ter-plan), atau akan meeting diluar, maka bawa mobil / tidak maka naik kereta.

Bagi saya, berada di kerumunan ordinary people di kereta, melihat dan mengamati tingkah polah manusia tua muda, anak sekolah, suami istri, remaja pacaran, orang buta, orang bersahaja, adalah seperti membaca buku cerita.

Jika bosan saya juga bisa sambil sembari cek and respon kerjaan kantor via email, atau sambil cek medsos lain.

Bagaimana dengan Gengsi ?

Tentu saja naik public transport tidak se-prestisius naik mobil, apalagi mobil mewah. Tetapi tidak ada salahnya bagi anda untuk mencoba naik commuter line, paling tidak saat weekend. Ada saat kita harus letakkan gengsi ke urutan ke 27.

Anyway, sebetulnya nilai hakiki manusia kan tergantung apa kontribusi dia terhadap sesama, lingkungan, dan dunia. Bukan dari dia naik apa. Dengan naik kereta, instead of naik mobil pribadi, anda sudah menyangi bumi (dan dompet :)). Why don’t you try ? Tidak harus tiap hari.

Bagaimana Naik Kereta Commuter Line Jakarta ? (Bagian 1 dari 2 tulisan)

Ada yg bilang bukan Jakarta kalau tidak macet. Entah ini menghibur diri, atau pasrah.. Dengan jumlah kendaraan bermotor 17.4juta di th 2014 (12juta Roda 2), dan terus bertambah, bagaimana tidak macet?

Kemacetan Tingkat Dewa di Jakarta

Salah satu solusi anti macet, populer di banyak negara, adalah kereta api. Di Jakarta disebut Commuter line. Moda ini menghubungkan Jakarta dengan kota penyangga di sekitarnya, membantu para commuter (jawa : Penglaju) setiap hari pergi pulang.

Mulai Agustus 2015 lalu beberapa kali saya coba moda ini. Tulisan ini akan dibagi 2, pertama menjelaskan bagaimana naik commuter, dan beberapa gambar terkait. Tulisan kedua menjelaskan suka – duka nya naik communter line, dari pandangan saya tentu saja, jadi mungkin agak subyektif. Semoga berguna.



Rute

Dapat dikatakan Commuter line menjangkau semua daerah kota satelit Jakarta. Dan semua rute dimulai dari kota pinggiran ini.

Secara garis besar, rute commuter line dapat dikategorikan sbb :

1. Bekasi – Jakarta Kota (Stasiun Beos) : jalur warna biru.
2. Bogor – Jakarta Kota : jalur warna merah tua
3. Bogor – Jatinegara : jalur oranye
4. Tangerang – Duri
5. Rangkas Bitung – Tanahabang.

Commuter line akan berhenti di stasiun-stasiun sepanjang lintasan tersebut, penumpang dapat berhenti dan naik disana. Misal Bekasi – Jakarta Kota, akan melewati Kranji, Cakung, dll. Stasiun dengan bulatan berwarna merah artinya kereta tidak berhenti, numpang lewat saja. Bagi anda yang beru pertama naik, tidak perlu menghafalkan stasiun-stasiun ini ya, juga tidak usah memprint blog ini, karena di setiap gerbong di dekat pintu ditempel kok..

Stasiun Manggarai, stasiun untuk transit

Beberapa stasiun disebut stasiun transit, yaitu tempat dimana penumpang berpindah kereta. Diantaranya: Jatinegara, Manggarai, dan Tanah Abang. Maksudnya begini, jika anda dari Serpong akan ke Bekasi, maka harus 2 kali ganti: (1) naik kereta Serpong – Tanah abang (gambar rute jalur hijau) lalu di Tanah Abang ganti kereta (2) Tanah Abang – Bogor (gambar Jalur Orange), turun di Manggarai, ganti lagi ke kerata (3) Jakarta Kota – Bekasi (jalur Biru).

Antar stasiun transit terkadang ada kereta feeder yang mondar-mandir antar stasiun transit. Misal : feeder Tanah Abang – Manggarai, dia akan bolak balik, seperti setrikaan, antara 2 titik tersebut.

Stasiun Kranji

Bagaimana Caranya ?

Mudah, dan murah. Modal pertama adalah tekat, lalu tentu saja uang, tidak mahal. Bagaimana cara bayar ? Semua penumpang harus menggunakan kartu akses. Ada dua cara untuk mendapatkannya :

1. Beli di Loket
Anda langsung ke loket, antri dengan baik, lalu katakan pada petugas tujuan anda, bayar sesuai tarif yang disebutkan, dan anda dapat tiketnya. Kartu ini dipakai untuk di “cetit” (ditempelkan, dan bunyi "tit" sekali.) di palang otomatis yang ada di tempat masuk dan keluar. Sesampai di tempat tujuan, untuk keluar stasiun anda “cetit” kan kartu lagi, lalu kartu dapat dikembalikan ditukar uang. Misal Bekasi ke Jakarta Kota, anda bayar 12ribu, dapat kartu, lalu di stasiun kota, kartu dapat diuangkan lagi dan anda dapat 8ribu. Jadi nett nya bayar 4 ribu, Bekasi ke Jakarta Kota (Beos, kota tua).

Tempat Untuk men-tap Kartu

2. Memakai Kartu Isi Ulang
Bagi anda yang sering pakai, mending pakai jenis ini. Dapat diisi ulang. Anda dapat juga cek saldo setiap saat (setiap kali men”cetit” di pintu masuk peron, akan muncul saldo tersisa anda. Kartunya disebut Commet, singkatan Commuter Electronic Ticket. Katanya bisa juga memakai kartu mandiri yang bisa dibeli di Indomaret, dll.

Kartu Commet

Begitu masuk, jika kereta belum ada, tunggu saja dulu. Jika sudah ada silakan masuk. Ingat gerbong pertama dan terakhir khusus wanita, warnanya biasanya pink. Gerbong lain untuk umum. Ditiap gerbong ada tempat duduk khusus orang tua, wanita hamil, ibu dengan anak, biasanya ada di ujung tiap gerbong, dekat pintu ke gerbong lain. Jika anda tidak masuk kategori ini, sebaiknya jangan duduk disana ya, tidak sopan itu. Dahulukan penumpang turun, aturan ini juga sering dilanggar, semoga anda tidak melanggar nanti. Jangan menunggu terlalu dekat jalur kereta, berbahaya.

Gerbong Si Pinky untuk Wanita

Jam Keberangkatan ? biasanya interval sekitar 15 – 30menit. Tapi sebaiknya begitu anda dekat stasiun cepat-cepat masuk, karena kalau santai sedikit dan ketinggalan kereta, nyesek banget lho. Sakitnya tuh disini (sambil megang dada).

Tarif : Murah dan Bersahabat. Bisa Bayar Nyicil ?
Ini gambaran tarifnya, Palmerah ke Jurangmangu (Bintaro) hanya 2rebu.. jarak sekitar 15km. Jurangmangu (Bintaro) ke Bekasi hanya 4rebu saja, dan jaraknya 41km !! Bekasi ke Jakarta Kota, hanya 4 rebu, sekitar 40km. Silakan bayangkan naik taksi habis berapa ? Atau kendaraan pribadi : bensin dan tol nya berapa, juga emosi karena macet yang tidak bisa diuangkan.

Bisa bayar nyicil gak ya ? tentu saja tidak. .plis deh, ..sudah murah kok minta nyicil, he..he.

Apakah nyaman ? aman ? on time ? lihat di postingan selanjutnya.